_ Mark Rutherford _
Dalam sebuah buku yang pernah saya baca, Ibnu Qudamah telah mengkategorikan syukur kedalam 3 bentuk hakiki. Saya beri nama ini dengan lingkup syukur. Bagi Ibnu Qudamah syukur itu mestinya mencakup tiga hal; yakni syukur hati, syukur lisan, dan syukur perbuatan. Hamba yang merasa bahwa hidup adalah anugrah. Kesempurnaan adalah nikmat. Kekayaan adalah titipan layaknya mengekspresikan syukur dengan hati, lisan, dan perbuatan.
Ini dilakukan agar diri mampu merasakan tidak adanya kekuatan, kemegahan, kehebatan, melainkan karena iradah Allah SWT. Dengan demikian tak satupun manusia yang dapat memungkirinya.
Hati adalah jantung kehidupan. Kenapa demikian? Hati yang sehat, membuat anggota tubuh juga turut sehat. Bahkan sehatnya jiwa seseorang tergantung pada baiknya hati yang terdapat dalan rongga dadanya. Kebutaan pada hati membuat pikiran tertutup dan tak mampu menangkap hikmah dan petunjuk dari Allah SWT seperti yang telah dituliskan dalam Al-Quran Surat Al-Hajj: 46 yang berarti :
" maka apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi , lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar?karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada didalam dada".
Kebutaan pada hati, menyebabkan manusia tiak mampu mendengarkan dan memahami kebaikan yang ditiupkan Allah pada kehidupan. Alangkah ngerinya hidup ketika tidak dirasuki oleh kebaikan. Semua gerak, perilaku dan tindakan semata - mata dikendalikan oleh hawa nafsu. Inilah yang membuat hidup akan hancur. Buruknya hidup tak lagi memiliki orientasi yang lebih hakiki. Karena itu peliharalah diri dari kebutaan hati.
Sebuah perumpamaan dari Mark Rutherford hati dengan sebuah mata kalau dipikir - pikir bener juga, karena hati adalah sumber dari karakter yang baik. Hati adalah cawan kebenaran, Ia juga menjadi wadah kelembutan. Namun demikian hati juga bisa mengalami sakit terutama ketika karakter negatif mendominasi hati. Maka pada saat inilah kejahatan, kebejatan, akhlak buruk mengendalikan hidup manusia, lalu melemparkannya ke dalam jurang kenistaan. Ironisnya hati yang dikuasai karakter buruk tak sungkan dan tidak merasa takut mendurhakai Allah SWT.
Al- Ghazali mendefinisikan hati sebagai organ khusus. Al- Ghazali menyebutkan hati sebagai galb jasmaniah. Inilah hati yang diisi dengan kelembutan ruahani ketuhanan. Manusia yang memiliki hati jasmaniah, mampu bersikap arif. Mereka sadar akan hakikat diri sebagai hamba Allah SWT.
Hati jasmaniah ini yang menggerakan lisa, bertutur Alhamdulillah. Dan anggota tubuh pun bersyukur, dengan cara berbagi terhadap sesama. Hati adalah panglima. Karena itu ia memiliki tentara. Al-Ghozali, menyebutkan dengan junud al-qulb. Apa laskar hati itu? Nyatanya, laskar hati adalah seluruh anggota tubuh. Baik lisan maupun anggota tubuh lainnya. Hati mensugesti lidah untuk bertutur. Setelah itu anggota tubuh, baik tangan maupun kaki, bertindak sesuai dengan titah lisan.
Hati juga memiliki posisi atau level. Pada posisi inilah hati harus didorong. Al-khawas, kata Al-Ghazali. Ini adalah maqam atau posisi dimana hati akan slalu merasaka Allah mengawasi manusia. Hati yang Khawas ini membuat diri slalu patuh dan takut jika tergelincir pada kedurhakaan. Hati yang khawas adalah hati yang selalu menerima diri untuk mematuhi, mentaati segala perintah Allah serta menjauhi laranganNya.
Hati yang sudah mencapai posisi khawas menjadikan diri mampu menjalani hisup sebagai jalan menuju Allah. hati akan selalu bersyukur terhadap takdir dan khendak Allah SWT, karena itu layaknya hati senantiasa dilatih untuk selalu bersyukur agar ia mampu mengatur anggota tubuhnya untuk berterima kasih kepada Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saran dan masukan untuk lebih berkembang