Selamat Datang Di Maha Karya Nununk

Jumat, 06 Agustus 2010

MASIHKAH SENYUM ITU UNTUKKU

Aku bukan manusia suci, yang mencintai Penciptanya tanpa berbagi
Aku manusia biasa yang nyata perlu cinta dari hati ke hati
Ajarkan aku menjadi naïf, senaif dirimu yang mampu tersenyum dalam beban
Atau setidaknya ajarkan aku lagi untuk menerima tanpa harus hanyut
(Webe, “Masihkah Senyum Itu Untukku”)

Separuh nafas jiwaku kau minta, aku coba berkaca pada air mata
Bertanya pada suara yang lelah apa aku masih punya yang kau minta?
Mungkin canda akan serba nyata atau jelang senja lagi saat kita bersama
Tertawa, dan bermain mata cinta…? Sepertinya kan?
(Webe, “Masihkah Senyum Itu Untukku”)

Kuhadirkan kau ke dalam mimpi ini untuk setia mendengar cerita perjalananku
Tapi sampai saat ini kau hanya tersenyum padahal aku ingin kau menjawab
Mengapa aku masih harus mencintai kebaikan yang pada akhirnya juga akan sirna…
(Webe, “Masihkah Senyum Itu Untukku”)

Masalah hanyalah sebentuk bumbu di kehidupan manusia,
Tapi seperti juga dalam masakan kalau terlalu banyak bumbu juga tidak akan terasa enak.
Dan sekarang bumbuku juga terlalu banyak.
(Webe, “Masihkah Senyum Itu Untukku”)

Sosok biru menahan jiwa yang memang sudah ada
Sosok lama yang hadir serupa kabut senja, aku tahu kau ada…Untuk siapa ?
(Webe, “Masihkah Senyum Itu Untukku”)

Rasa memiliki itu seperti sel , atau seperti fatamorgana ?
Dia akan pecah dari satu menjadi seribu
Tapi dia akan hilang kalau tersentuh sebelum waktu
Maka kita tetap harus menyimpannya suka atau tidak suka
(Webe, “Masihkah Senyum Itu Untukku”)

Alur sungai di pipi itu telah kering tapi dia mungkin akan kembali
Seiring waktu, seiring doa, seiring rasa
Kenapa dunia tidak selalu seirama
Saat harap… Saat lepas…Saat itu aku menggigil
Karena dia yang datang bukan yang aku minta……
(Webe, “Masihkah Senyum Itu Untukku”)

Aku kangen…Bukan padamu. Tapi pada jiwamu
Ketegaranmu. Kemisteriusanmu. Sosokmu
Tapi kau pilihanku…….
Tolong ceritakan padaku apakah cinta masih punya arti bagi kita?
Sedang nyata kita sudah terlelap dalam remang bilik yang kita bangun sendiri

Izinkan aku kecewa dalam kepasrahanku ini, kenapa aku tetap harus menyerah
Pada barisan teka-teki-Mu, yang bernama “ TAKDIR “ ?
Sering kutanyakan dalam hati mengapa kita semua harus terbangun
Dari ranjang mimpi yang kita pilih sendiri padahal aku enggan
Karena hidup, bagiku tak seindah mimpi
(Webe, “Masihkah Senyum Itu Untukku”)

Berikan aku waktu sejenak untuk bernapas di sini
Sebelum aku mati karena ikatan rindu
Sebelum aku pulang lagi ke tempat dulu
Sebelum… sebelum kau tahu Aku masih yang dulu
(Webe, “Masihkah Senyum Itu Untukku”)

Tanya itu jadi satu di kalbu bersama rasa seirama surya
Kini tapakku di atas dunia hantarkan puja pada-Nya
Seiring rasa…Dan tanya yang seketika ada
(Webe, “Masihkah Senyum Itu Untukku”)

Ya Allah, sudah waktu satu pertiga malam
Betapa cepat waktu berlalu tapi hidupku begitu pula
Jika ini adalah ujian yang harus aku tempuh
Dengan tangan dan kaki yang lelah maka akan aku jalani semua dengan
Kesadaran tanpa batas……
(Webe, “Masihkah Senyum Itu Untukku”)

Kala jejak sahabat menjauh tanpa ujung dan rasa yang tersisa
Kala mimpi ini tinggal separuh sebab separuh terjepit di tapaknya
Separuh lagi? Susah payah kuangkat di bahu ini
Sebab cinta tetap cinta,Sebening telaga atau air mata surga
Sejalan dengan belati atau duri, Itulah cinta,masih ada yang bertanya?
(Webe, “Masihkah Senyum Itu Untukku”)

Hari itu berlalu tertiup jam yang diganti menit, dan menit pergi tak kembali
Meninggalkan sesal dan detik terakhir yang tak mampu mengusir galau
Jangan tanya mengapa karena detik hanya detak jantung yang tak kembali

Tak satupun ada yang ingin tertutup kabut namun jika angin salah sampaikan salam
apakah berarti harus berlalu dalam diam? aku hanya ingin menyapa cinta
pada bayangan yang semakin maya.
Sungguh…..aku tak ingin kehilangan mentari lagi…

Kecewa ini tak pantas kubawa entah pada siapa atau pada apa harus kutimpakannya
Kecewaku kini tak bermuara tak sanggup lagi mengadu luka
Bahkan limpahkan rasa dalam air mata……Tuhan…..
Perkenankan aku mati untuk sementara.

Harapan-harapan yang telah terpenuhi tidak hanya membuatku bahagia tetapi dengan tidak sengaja telah menghancurkan impian yang selama ini telah ku tanamkan dalam diriku.
Jiwaku haus, haus akan kebahagiaan yang seharusnya kuraih. Perih, sakit selalu menyertai hati kecilku andai semua orang dapat merasakan apa yang aku rasakan mungkin mereka juga akan melakukan hal yang sama seperti hal bodoh yang telah aku lakukan..Tolong aku…….

Maka kiranya diri-Mu ya Allah mencukupkan aku dengan segala ketentuan-Mu
Sungguh, segala rasa yang ada hanyalah milik-Mu
“La haula walaa quwwata illa billaahil ’aliyyul ‘azhim”
(Webe, “Masihkah Senyum Itu Untukku”)

Puisi Q

Thusday, 18 Oktober 2008

Sekuntum Doa Untuk Sahabat

Sahabat….

Dalam ruang perjalanan sejarah hidup kita ada mimpi kita bersama, jauh…..dibelakangsana. Dan untuk membuka pintu ruang itu, kita harus memasuki koridor - waktu yang cukup panjang sarat beban, sarat rintangan, namun sarat pula kesan. Dan kita pun sering bertemu ruang – ruang buntu dan berdebu yang terkadang membuat kita ragu.

Sahabat….

Kadang kita lewati lorong yang cukup luas sehingga kita bisa melangkah beriringan bersama. Namun ada masanya kita lewati lorong yang sempit sehingga kita menapakinya bergantian, …sendirian ! ! !..disaat itulah kita merasakan kesunyian meratapi hati, mencekam hingga menusuk kalbu yang paling dalam.

Sahabat…..

Disaat sepi itulah aku baru tersadar bahwa tanpamu jalan ini terasa jauh……. Dan sepiii…sekali.

Namun sahabat…….

Bila kau terjaga dari mimpimu dan merasakan kepedihan yang sama ingatlah bahwa aku menemanimu. Walau jarak dan waktu tlah memisahkan kita, mrnjauhkan hari - hari serta penuh canda. Tapi ingatlah persahabatn kita tidak akan pernah berakhir. Dan apabila waktu saat kita bertemu lagi kita akan merajut kembali cerita yang sempat terpenggal. Cerita milik kita bersama.

" Tuk semua sahabatku ....."




Mudah Saja

Tuhan
Aku berjalan menyusuri malam
Setelah patah hatiku
Aku bedoa semoga saja
Ini terbaik untuknya

Dia bilang
Kau harus bisa seperti aku
Yang sudah biarlah sudah

Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja.. Cintamu seperti cintaku

Selang waktu berjalan kau kembali datang
Tanyakan keadaanku

Ku bilang
Kau tak berhak tanyakan hidupku
Membuatku semakin terluka

Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Coba saja lukamu seperti lukaku

Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja cintamu seperti cintaku

Mudah saja…


Koleksi Sheila on 7 yang lain.
Mp3 Download & Lirik Lagu Sheila On 7 – Mudah Saja
Gambar Artis Indonesia

Menanti Cinta

Krisdayanti – Menanti Cinta

sejak lama aku berdiri
dalam sepinya rongga hati
tak satu pun burung 
mampu menjawab

* hanya padaMu ku bertanya
lewat setiap sujudku ini
siapa kah nanti
cinta untukku

reff:
wahai penilai hati lihat batinku
nyaris bernanah karna luka tersayat
merana menantikan cinta dan kasih hidupku

rahasia itu hanya Kau yang tahu
namun aku tak mau jadi tuna cinta
tuntun hatiku dalam sabar menanti jodohku

repeat *
repeat reff

rahasia itu hanya Kau yang tahu
namun aku tak mau jadi tuna cinta
namun harus ku ikhlaskan nasib cintaku padaMu

Lirik lagu Krisdayanti – Menanti Cinta ini dipersembahkan oleh LirikLaguIndonesia.Net. Kunjungi DownloadLaguIndonesia.Net untuk download MP3 Krisdayanti – Menanti Cinta.